MENDENGAR NASIHAT

“Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN 

dan bukan cakap angin, kalau Aku berfirman

hendak menjatuhkan malapetaka ini atas mereka.”

(Yeh. 6:10)

Julius Caesar adalah seorang kaisar Roma yang sangat berpengaruh pada zamannya. Ia menjadi tokoh yang membawa banyak perubahan dalam sistem pemerintahan Roma. Sayang, hidupnya berakhir dengan tragis. Ia memaksakan diri untuk hadir di sebuah pertemuan senat, walaupun ia diperingatkan oleh beberapa orang untuk tidak menghadiri pertemuan itu. Sesampainya Julius di pertemuan itu, apa yang menjadi ketakutan banyak orang pun terbukti: ia dibunuh dengan kejam oleh sekelompok pemberontak dan pengkhianat.

Kisah Julius Caesar memperlihatkan bagaimana seseorang yang hidup dalam kepercayaan diri yang terlampau tinggi telah membutakan dirinya untuk mendengarkan nasihat dan teguran dari orang lain. Demikian juga halnya dengan bangsa Israel. Berpuluh-puluh tahun lamanya, lewat nabi-nabi-Nya, Allah memperingatkan bangsa Israel untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, karena merasa diri sudah kuat, Israel sering kali mengabaikan peringatan-peringatan tersebut. Akhirnya, seperti yang kita tahu, berakibat pada kehancuran Israel dan Bait Suci yang sangat mereka bangga-kan dan pembuangan mereka dari tanah perjanjian. Pada saat itu terjadi, hanya penyesalanlah yang tersisa. “Mengapa tidak sejak dahulu kami mengikut Allah?”

Youth, kadang kita merasa lelah untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari orang lain. Kadang, kita merasa nasihat-nasihat yang diberikan sudah kuno dan tidak sesuai dengan kondisi yang kita alami pada saat ini. Namun, alangkah baiknya bila kita tetap mau mendengarkan dan mempertimbangkan setiap nasihat yang ada. Penyesalan di kemudian hari tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2017/11/16/