MURID YANG SEJATI

” Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,

supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru

kepada orang yang letih lesu. “

(Yes. 50:4)

Wu Cheng’en (1500-1582) adalah seorang penulis novel pada zaman Dinasti Ming (1368-1644). Dalam novel His-yu-chi (Journey to the West, Perjalanan ke Barat), ia menulis cerita perjalanan Hsuan-tsang ke barat untuk mendapatkan kitab suci. Hsuan-tsang ditemani oleh tiga muridnya, yaitu Sun Wukhung alias Sun Go Kong atau si Kera Sakti, Chu Pa-chieh alias Ti Pat Kai atau si Babi, dan Sha Ho-shang. Ketiga murid ini adalah murid yang nakal dan sulit diatur. Ketiganya hanya akan takut jika diawasi oleh sang guru. Mereka bukanlah sosok murid yang dapat diteladani.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yesaya menguraikan tentang sosok atau gambaran seorang murid yang baik sebagai hamba Tuhan. Seorang murid memiliki lidah yang dituntun oleh Tuhan sehingga melalui perkataannya dapat memberikan semangat kepada orang yang letih lesu. Tuhan juga mempertajam pendengaran hamba-Nya agar hamba-Nya dapat menjadi murid yang sejati. Tuhan membentuk hamba-Nya agar memiliki kesabaran, kuat menghadapi kesulitan, dan tegar di dalam menghadapi tantangan.

Youth, layaknya Yesaya, kita adalah hamba Tuhan. Kita juga murid-murid Tuhan. Oleh karena itu, refleksi Yesaya terhadap panggilan Tuhan kepada dirinya dapat kita terapkan juga kepada diri kita sendiri. Dalam usia muda, jadilah seorang murid Tuhan yang sejati. Bersedialah untuk dibentuk Tuhan. Milikilah mulut, telinga, dan hati yang dapat memberi semangat dan tidak sebaliknya.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/03/28/