BERPENGHARAPAN

” Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita …. ”

(Ibr. 6:19)

 

Di dunia, setiap tahun ada 800.000 orang yang bunuh diri (2016). Angka bunuh diri tertinggi terdapat di negara Korea Selatan. Sementara di Indonesia, ada 3,7 penduduk yang bunuh diri per 100.000 penduduk. Dengan jumlah pen­duduk 258 juta orang, berarti ada 10.000 orang yang bunuh diri per tahun atau ada satu orang yang bunuh diri setiap jam. Mengapa orang bunuh diri? Mereka kehilangan pengharapan di dalam hidup.

 

Perikop hari ini mengungkapkan pentingnya pengharapan dan juga memberikan penjelasan kenapa kita perlu berpengharapan. Harapan ibarat sauh (jangkar) yang kuat dan aman bagi jiwa (ay. 19), jiwa akan menjadi tenang dan teguh bila memiliki pengharapan. Harapan akan menenangkan hati yang bimbang dan akan meneguhkan hati yang goyah. Lalu apa dasar pengharapan? Penulis Ibrani mengatakan dasar pengharapan adalah Allah yang tidak mungkin berdusta (ay. 18). Allah di dalam Kristus adalah Allah yang bisa dipercaya. Ia berkuasa melaku­kan apa yang tidak mungkin bagi manusia. Abraham contohnya, ia bisa menjadi bapa yang besar walau sudah tua dan istrinya sudah mati haid. Allah yang berkuasa dan bisa dipercaya menjadi sumber peng­harapan bagi kita yang senantiasa membutuhkan perlindungan. Ketika manusia yang terbatas berlindung dan berharap kepada Dia yang ti­dak terbatas, maka manusia akan memiliki pengharapan atau jangkar hidup. Dampaknya, jiwa manusia tidak akan terombang-ambing.

 

Youth, hidup kita bisa diombang-ambingkan oleh berbagai macam badai hidup. Jika berharap kepada Allah, jiwa kita akan selalu damai dan tenang.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/10/23/