YAKIN PENUH

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai,

mempersembahkan Ishak.

(Ibr. 11:17)

 

Soren A. Kierkegaard, seorang filsuf abad ke-19, pernah mengatakan iman Abraham se­bagai iman yang nekat kepada Allah, tidak dapat diduga. Artinya, iman Abraham adalah kepasrahan kepada nasib. Kalau ternyata Allah jahat, berarti iman kepada-Nya adalah sia-sia.

 

Namun Alkitab mengatakan bahwa iman Abraham bukanlah iman nekat, melainkan iman yang lahir dari sebuah keyakinan penuh dan pengenalan yang mendalam akan Allah. Abraham mengenal Allah sebagai sosok yang setia dan selalu memenuhi janji-Nya. Allah mengasihinya dan memeliharanya sepanjang hidupnya. Salah satunya, Allah mengaruniakan Ishak kepada Abraham dan Sara pada masa tua mereka. Allah yang setia selalu memenuhi janji-Nya. Inilah yang membuat Abraham meyakini secara penuh bahwa imannya kepada Allah bukanlah iman yang nekat. Ketika ia diminta untuk mempersem­bahkan Ishak kepada Allah, ia tetap taat kepada Allah. Bisa saja secara manusia Abraham tidak menerima keputusan Allah, akan tetapi Abraham tidak menunjukkan sikap penolakan. Karakter yang baik telah terben­tuk dalam dirinya. Itu dibuktikannya melalui sikap dan tindakannya kepada Allah.

 

Youth, iman itu memandang ke depan. Iman itu rela mengorbankan yang terbaik untuk meraih janji Allah. Iman tidak tergantung ke­adaan dan situasi, sebab Allah bekerja tidak berdasarkan situasi yang terjadi. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, namun yakinlah bahwa semua yang kita alami merupakan proses yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita. Melalui peristiwa-peritiwa itulah janji Allah akan tergenapi.

 

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/13/