PERCAYA DAN BERSANDAR KEPADA TUHAN

” … kepada kasih setia-Mu aku percaya,

hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. “

(Mzm. 13:6)

 

 

Dalam menjalani hidupnya, manusia membutuh­kan pegangan yang dapat membuatnya tenang. Tanpa pegangan, manusia bisa menjadi kha­watir akan masa depan. Ada beragam hal yang dijadikan pegangan atau andalan oleh manusia. Antara lain kekayaan, kesehatan, ilmu pengeta­huan, senjata, para pembesar, tokoh politik, re­lasi pertemanan, dan lain-lain. Namun, apakah hal-hal tersebut dapat menjadi pegangan atau andalan hidup yang kokoh? Apa yang seharusnya kita andalkan?

 

Pemazmur dalam hidupnya pernah merasa khawatir. Kekhawati­ran itu timbul ketika pemazmur berhadapan dengan para musuhnya. Dalam kekhawatiran tersebut pemazmur membutuhkan pertolongan dan sandaran hidup yang dapat dipercaya. Di tengah ancaman itu pemazmur mengaku percaya kepada Tuhan dan kasih setia-Nya. Pemazmur ber­pegang pada persekutuan yang pernah ada dan memohon agar keadaan itu dipulihkan oleh Tuhan. Pemazmur meyakini bahwa orang yang ber­sandar kepada Tuhan akan mendapat kekuatan dalam menghadapi ber­bagai pergumulan hidup. Pemazmur sampai pada keyakinan bahwa Tuhan telah menyelamatkan dia. Kasih setia Tuhan dapat dipercaya, karena itu merupakan jaminan yang pasti.

 

Youth, materi sifatnya sementara sehingga tidak bisa dijadikan san­daran hidup. Begitu juga manusia. Manusia dapat berubah dan/atau mati. Kekayaan, jabatan, status, dan hal-hal lainnya juga dapat sirna. Sandaran yang kokoh hanyalah Tuhan. Ia kekal. Tidak berubah. Kita dapat terus memercayakan diri kepada pemeliharaan Tuhan. Kita dapat menaruh ke­percayaan dan kekhawatiran hidup kita dalam tangan Tuhan yang kekal.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/19/