TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring:

“Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”

Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. ”

(Kis. 7:60)

 

Menyelamatkan diri sendiri. Pernahkah Anda melakukan itu? Ada yang mengatakan adalah naluriah manusia untuk senantiasa menyelamatkan atau membela diri, karena kecenderungan ma­nusia adalah membuat dirinya aman dan nya­man. Namun, tindakan menyelamatkan atau membela diri bisa mengakibatkan terjebak pada pementingan diri. Orang menjadi egois karena memikirkan dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Karena keinginan dan usahanya untuk melindungi diri, ada orang yang menjadi antikritik dan sulit untuk di­beri saran atau masukan. Karena hanya berpikir untuk menyelamatkan dan membenarkan diri sendiri, mengakibatkan orang tidak mau mendengarkan dan peduli orang lain.

 

Bacaan kita pada hari ini menceritakan seorang rasul bernama Stefanus yang diperhadapkan pada sebuah persidangan Mahkamah Agama. Ia disidang karena memberitakan Injil. Lalu, apa yang dilakukan oleh Stefanus? Ada peluang bagi dirinya untuk membenarkan diri atau menyelamatkan dirinya. Namun itu tidak dipilih Stefanus. Dikatakan bahwa dalam tuntunan Roh Kudus, Stefanus tidak gentar untuk lari atau menyelamatkan diri. Ia malah berkata, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Hal tersebut membuat orang banyak gelap mata dan mulai melakukan tindakan kekerasan terhadapnya. Namun respons yang luar biasa ditunjukkan Stefanus. Stefanus mencontoh teladan Yesus, ia memberikan pengampunan kepada orang-orang yang menganiayanya (lih. ay. 60).

 

Youth, maukah Anda belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri, melainkan hidup terarah kepada Tuhan dan sesama?

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/youth-for-christ/